Aceh Tenggara–Liputan24jam.com
Stadion H. Syahadat Kutacane yang berada di pusat Kota Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, kini menjadi sorotan. Stadion yang selama ini dikenal sebagai ikon kebanggaan masyarakat Aceh Tenggara tersebut terlihat tidak lagi terawat dan nyaris tanpa aktivitas olahraga.
Sebagai satu-satunya stadion di Aceh Tenggara, Stadion H. Syahadat dulunya kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan penting, mulai dari pertandingan sepak bola hingga kegiatan pemerintahan dan event besar daerah. Pertandingan sepak bola terakhir yang ramai digelar di stadion ini diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2019.
Terbaru, stadion tersebut digunakan sebagai salah satu lokasi rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara yang dipusatkan di Kutacane pada Juni 2026. Berbagai kegiatan seperti karnaval budaya, pameran pembangunan, dan gerak jalan santai turut memanfaatkan kawasan stadion. Namun, setelah kegiatan usai, kondisi stadion kembali terabaikan tanpa adanya perawatan yang memadai.
Sorotan terhadap kondisi stadion juga datang dari pegiat sosial dan kalangan pemuda Aceh Tenggara, Pani Akbar. Ia mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam mengelola aset milik pemerintah yang menjadi kebanggaan masyarakat.
“Stadion ini berada di pusat Kota Kutacane dan merupakan aset penting daerah. Sangat disayangkan jika dibiarkan terbengkalai tanpa perawatan,” ujarnya.jumat, 31/07
Menurut Pani Akbar, stadion tersebut memang sempat direhabilitasi pada tahun 2025 dan pekerjaannya telah selesai. Namun, hingga kini masih terlihat sisa puing-puing bangunan yang belum dibersihkan, sehingga menambah kesan kumuh di kawasan stadion.
Saat ini, kondisi stadion dipenuhi rumput liar, semak belukar, serta sampah yang berserakan. Minimnya aktivitas olahraga membuat sebagian warga menjuluki Stadion H. Syahadat sebagai “stadion mati” karena kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat pembinaan olahraga dan ruang aktivitas masyarakat.
Pani Akbar berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara segera mengambil langkah nyata untuk membersihkan, merawat, dan mengaktifkan kembali Stadion H. Syahadat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai sarana olahraga dan kegiatan positif.
“Jangan sampai aset kebanggaan daerah ini terus dibiarkan terbengkalai. Stadion ini harus kembali hidup dan menjadi pusat kegiatan olahraga masyarakat Aceh Tenggara,” tutupnya.
MS
