ACEH TENGGARA — Liputan24jam.com
Kondisi jembatan darurat di Mbarung, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, menuai sorotan. Jembatan yang menjadi akses penyeberangan warga, termasuk anak-anak yang hendak pergi ke sekolah, dinilai mengkhawatirkan karena konstruksinya menggunakan material kayu dengan penyangga pohon pinang.
Di bawah jembatan, derasnya arus sungai menambah kekhawatiran warga terhadap keselamatan masyarakat yang melintas. Kondisi tersebut membuat sejumlah orang tua diliputi kecemasan setiap kali anak-anak mereka berangkat menuntut ilmu maupun saat menunggu kepulangan mereka ke rumah.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku hanya bisa menunggu dengan perasaan cemas ketika anaknya menyeberangi jembatan tersebut untuk pergi ke sekolah. Kekhawatiran itu muncul karena kondisi jembatan dinilai belum memberikan rasa aman bagi para penggunanya.
Konstruksi jembatan darurat yang menggunakan kayu dan pohon pinang sebagai penyangga menjadi perhatian utama. Terlebih, derasnya aliran sungai di bawah jembatan menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan dan ketahanan konstruksi tersebut.
Tokoh masyarakat Seberang, Suharto SH, mengecam kondisi yang menurutnya belum mendapatkan penanganan memadai dari pemerintah. Ia mendesak agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyediakan akses penyeberangan yang lebih aman bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
Menurut Suharto, pembangunan jembatan gantung dapat menjadi salah satu alternatif yang perlu dikaji sesuai kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat setempat.
Ia juga mempertanyakan jaminan keselamatan jembatan darurat tersebut. Menurutnya, jika jembatan permanen saja dapat mengalami kerusakan atau roboh, jembatan darurat berbahan kayu tentu perlu mendapat perhatian serius dari sisi kekuatan konstruksi dan keselamatannya.
Suharto menilai pemerintah seharusnya tidak menunggu terjadinya insiden terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Baginya, keselamatan warga, terutama anak-anak yang setiap hari harus menyeberangi sungai untuk bersekolah, semestinya menjadi prioritas.
Ia juga melontarkan kritik terhadap respons pemerintah yang dinilainya belum terlihat
nyata dalam menjawab persoalan tersebut.
Suharto mengingatkan bahwa penanganan akses penyeberangan yang membahayakan masyarakat tidak boleh ditunda hingga jatuh korban jiwa.
Menurutnya,pemerintah perlu melihat langsung kondisi di lapangan dan segera menentukan langkah penanganan yang tepat, baik melalui pembangunan jembatan permanen maupun penyediaan jembatan darurat yang memenuhi standar keselamatan.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Setiap hari, anak-anak harus melewati akses tersebut untuk memperoleh pendidikan, sementara orang tua mereka dibayangi kecemasan terhadap keselamatan buah hati mereka.
Masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara bersama instansi terkait segera melakukan pemeriksaan teknis terhadap kondisi jembatan darurat Mbarung dan mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Hingga berita ini disusun, belum ada informasi mengenai korban akibat penggunaan jembatan darurat tersebut. Namun, kondisi yang dikeluhkan warga menjadi peringatan agar upaya pencegahan dilakukan sedini mungkin.
MS
