Aceh Tenggara – Liputan24jam.com
Jeritan warga, khususnya emak-emak Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, kembali menggema. Mereka mendesak pemerintah daerah segera memberikan kepastian terkait pembangunan Hunian Tetap (Huntap), Hunian Sementara (Huntara) serta jaminan hidup (jadup) bagi masyarakat terdampak bencana.
Kekecewaan warga memuncak hingga dilakukan blokade ruas jalan Kutacane–Gayo Lues. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan agar Bupati Aceh Tenggara, M. Salim Fakhri, hadir langsung dan mendengarkan keluhan serta tuntutan masyarakat.
Warga mengaku sudah terlalu lama hidup dalam kondisi sulit setelah bencana yang mereka alami. Mereka menilai kepastian mengenai Huntap, Huntara dan jadup hingga kini masih menjadi tanda tanya.
Salah seorang emak-emak dalam aksi tersebut menyampaikan kekecewaannya dengan nada tegas.
“Kalau memang bupati tidak menginginkan kami sebagai rakyat, pindahkan kami ke Gayo Lues. Kami sudah menderita setahun penuh. Kami tidak ingin mendengar kata-kata sabar lagi. Kalau kalian ingin menyalahkan kami, salahkan kami yang menderita ini.”
Menurut warga, mereka bukan meminta sesuatu yang berlebihan, melainkan kepastian atas kehidupan mereka setelah bencana. Mereka berharap pemerintah tidak hanya meminta masyarakat untuk bersabar tanpa memberikan kejelasan mengenai kapan bantuan dan tempat tinggal yang dijanjikan dapat direalisasikan.
Warga juga membandingkan perhatian pemerintah terhadap sejumlah kejadian bencana lainnya.
“Kalau banjir Kuning saja bupati langsung turun, sedangkan bencana yang kami alami ini banyak saudara kami menjadi korban meninggal dunia. Sebagian keluarga kami bahkan menerima jenazah keluarganya. Jangan ada beda kasih, jangan kami dianggap anak tiri,” ujar warga.
Bagi warga, kehadiran langsung Bupati M. Salim Fakhri sangat penting. Mereka ingin mendengar sendiri dari pimpinan daerah mengenai kepastian jadup, Huntap dan Huntara, bukan sekadar menerima imbauan agar kembali bersabar.
“Jangan suruh kami sabar lagi. Kami sudah terlalu lama bersabar. Kami ingin kepastian, kapan jadup diberikan dan kapan Huntap serta Huntara kami disalurkan,” tegas warga.
Blokade jalan Kutacane–Gayo Lues tersebut menjadi bentuk kekecewaan masyarakat yang berharap pemerintah daerah segera turun tangan menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Warga berharap aksi tersebut tidak dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan sebagai jeritan masyarakat yang merasa belum mendapatkan kepastian atas masa depan kehidupan mereka pascabencana.
Mereka meminta Bupati Aceh Tenggara hadir menemui warga, membuka ruang dialog dan memberikan jawaban yang jelas terkait nasib masyarakat terdampak.
“Kami tidak butuh lagi janji untuk bersabar. Kami butuh kepastian.”
MS
