ACEH TENGGARA — Liputan24jam.com
Sebanyak empat jembatan yang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi direncanakan menjadi prioritas pembangunan jembatan permanen oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada tahun 2027 mendatang.
Keempat jembatan tersebut meliputi Jembatan Permanen Mbarung–Kedataran, Jembatan Natam, Jembatan Deleng Mekudu, dan Jembatan Kuning.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Tenggara mengatakan, berdasarkan data Kementerian PU, keempat jembatan tersebut masuk dalam prioritas pembangunan tahun 2027.
”Dalam data Kementerian PU, ada empat jembatan yang menjadi prioritas pembangunan permanen. Semoga masyarakat secepatnya kembali menikmati akses yang nyaman setelah pembangunan direalisasikan pada tahun mendatang,” ungkap Kadis PUPR.
Selama akses jembatan belum kembali normal, masyarakat harus menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari sektor pendidikan, pekerjaan, hingga perekonomian.
Salah seorang warga Desa Mbarung Datuk Saudane, Safrizal, mengaku sangat terdampak akibat terputusnya akses penyeberangan. Ia harus mengeluarkan biaya tambahan dan menempuh perjalanan lebih jauh untuk mengantar anaknya bersekolah maupun pergi bekerja di pusat Kota Kutacane.
Menurutnya, sebelum jembatan rusak, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Namun, kini ia harus memutar melalui Jembatan Silayar dengan waktu tempuh mencapai satu hingga dua jam.
”Biasanya perjalanan hanya sekitar 10 menit. Sekarang harus memutar melalui Jembatan Silayar, bisa sampai satu hingga dua jam. Biaya BBM juga semakin bertambah,” keluh Safrizal.
Sebelumnya, masyarakat telah beberapa kali berupaya membangun jembatan darurat secara swadaya. Namun, upaya tersebut hanya mampu bertahan dalam hitungan hari.
Kondisi cuaca yang masih memasuki musim hujan serta meningkatnya debit air Sungai Alas menyebabkan jembatan darurat berulang kali roboh dan hanyut terbawa arus.
Akibatnya, kondisi penyeberangan saat ini lumpuh total. Tidak sedikit warga yang memiliki keluarga di seberang sungai terpaksa menghadapi kesulitan untuk saling berkunjung. Bahkan, sebagian warga masih berupaya menyeberangi derasnya arus Sungai Alas demi menjangkau keluarga mereka.
Kesulitan serupa juga dirasakan Sarimin. Ia mengaku aktivitas perkebunannya terganggu karena kebunnya berada di seberang sungai, tepatnya di Desa Mbarung Datuk Saudane.
Untuk membawa hasil kebun, Sarimin terpaksa memutar melalui Jembatan Silayar, sehingga membutuhkan waktu dan biaya lebih besar dibandingkan sebelum jembatan tersebut rusak.
Dengan masuknya empat jembatan tersebut dalam prioritas pembangunan Kementerian PU tahun 2027, Sarimin berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen agar aktivitas masyarakat kembali normal.
”Kami berharap jembatan ini segera dibangun. Masyarakat sangat membutuhkan akses tersebut, baik untuk bekerja, mengantar anak sekolah maupun membawa hasil perkebunan,” harapnya.
Diketahui, jembatan permanen Mbarung–Kedataran mengalami kerusakan akibat diterjang bencana hidrometeorologi pada 25 November 2025. Peristiwa tersebut mengakibatkan akses vital masyarakat yang menghubungkan wilayah antardesa terputus hingga saat ini.
Masyarakat kini berharap rencana pembangunan yang masuk dalam prioritas Kementerian PU tahun 2027 tidak hanya menjadi pendataan di atas kertas, tetapi benar-benar direalisasikan sehingga persoalan keterisolasian akses pendidikan dan perekonomian warga dapat segera teratasi.
MS
